Antara Ilmu dan Akhlak: Saat Religius Hanya Tampak di Permukaan
Di era modern yang serba visual, kita sering menyaksikan fenomena yang mengusik nurani: banyak orang berlomba-lomba untuk terlihat religius . Simbol-simbol keagamaan dijaga dengan ketat, ucapan dipoles dengan dalil-dalil yang fasih, namun kebaikannya seringkali bersifat eksklusif—hanya mengalir kepada golongannya sendiri .
Ada sebuah paradoks yang nyata di tengah masyarakat kita: ghirah belajar agama meningkat pesat, namun empati kepada sesama justru mengering.
Ilmu agama bertambah secara kognitif, tetapi akhlak tertinggal secara substantif.
Ilmu Tinggi Belum Tentu Akhlak Tinggi
Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat informatif. Ia bisa dipelajari melalui buku, dihafal lewat lisan, dan diajarkan di mimbar-mimbar. Namun, akhlak adalah cerminan hati yang bersifat transformatif.
Akhlak tampak dari cara kita bersikap, merespons perbedaan, dan memperlakukan orang lain—terutama mereka yang tidak berada dalam satu barisan dengan kita.
Seseorang bisa sangat fasih berbicara soal hukum fikih atau hafal banyak dalil, namun bila masih mudah merendahkan, menghakimi tanpa tabayyun, dan menyakiti sesama, maka ada yang keliru dalam proses belajarnya.
Ilmu yang berhenti di kepala dan tidak turun ke hati tidak akan pernah menjelma menjadi akhlak.
Religius yang Hakiki Itu Meluaskan, Bukan Membatasi
Religiusitas sejati tidak diukur dari seberapa kuat identitas ditampilkan, melainkan dari seberapa luas kebaikan dibagikan .
Jika kebaikan hanya berlaku untuk mereka yang “sama dengan kita”, maka pantas dipertanyakan:
Di mana nilai rahmatan lil ‘alamin yang selama ini kita agungkan?
Akhlak sebagai Ujian bagi Ilmu
Dalam tradisi intelektual-spiritual, ilmu dan akhlak ibarat dua sayap burung:
- Ilmu tanpa akhlak melahirkan kesombongan dan merasa paling benar.
- Akhlak tanpa ilmu mudah goyah karena kehilangan arah.
Keseimbangan keduanya membuat agama benar-benar hidup, menjadi napas dalam setiap tindakan.
Yang perlu kita kejar bukan terlihat benar, melainkan bersikap benar.
Pesan Renungan: Muhasabah dan Introspeksi Diri
Mari berhenti sejenak dari menghakimi dunia luar dan mulai bercermin ke dalam diri.
- Apakah ilmuku membuatku rendah hati?
- Siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari kehadiranku?
- Apakah aku mencintai dalil lebih dari manusia?
Kesalehan sejati menenangkan, merangkul, dan menghadirkan kedamaian.
Seperti pohon: akarnya kuat (ilmu), buahnya bisa dinikmati siapa saja (akhlak).
EmoticonEmoticon