2/05/2026

Haus Ilmu Tanpa Batas: Mengubah Keterbatasan Menjadi Karya Nyata

Haus Ilmu: Perjuangan Otodidak dari Mesin hingga Coding

Banyak yang bertanya, kenapa saya seolah tidak pernah berhenti belajar? Mulai dari mendalami teknik otomotif, mengoprek jaringan internet, hingga mempelajari teknologi digital terbaru. Jawaban saya sederhana: Karena saya merasa masih bodoh.

Sampai kapan pun, saya ingin terus haus akan ilmu. Bagi saya, ilmu apa pun itu—asalkan positif—harus dipelajari sampai tuntas. Saya tidak akan berhenti sebelum saya benar-benar menguasainya. Inilah prinsip hidup yang membawa saya sampai ke titik ini.

Semangat belajar otodidak ABM dalam keterbatasan

Visualisasi Internal: Semangat pantang menyerah dalam mempelajari hal baru meski tanpa pembimbing formal.

Tantangan Dunia Blogging & Coding

Terjun ke dunia blogging ternyata membawa tantangan baru yang bagi saya terasa sangat berat. Saya dipaksa untuk mengenal dunia coding yang awalnya sangat asing dan rumit. Mungkin bagi orang lain ini hal biasa, namun bagi saya, terjebak dalam error yang tidak kunjung selesai adalah ujian kesabaran yang nyata.

Mencoba skrip sana-sini, seringkali berakhir gagal, dan harus mengulang dari awal tanpa ada pembimbing yang menuntun. Rasanya dunia pemrograman itu penuh dengan "Jebakan Betmen"; niatnya cuma mau ganti warna tombol, tapi malah satu layout blog hilang entah ke mana. Mengedit HTML editor itu kadang lebih horor daripada bongkar mesin yang macet, karena salah hapus satu tanda kurung saja, satu blog bisa langsung blank putih!

Belum lagi kalau sudah menyentuh Python. Salah naruh spasi sedikit saja, program langsung mogok. Kalau sudah begini, rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai tidak sadar sudah menghabiskan kopi se-panci cuma buat nyari satu titik kesalahan! hhhhh.

Ada saatnya saya merasa seperti orang gila; pusing sendiri, marah-marah sendiri karena kode nggak jalan, tapi tiba-tiba ketawa sendiri pas ketemu solusinya. Perasaan senangnya itu melebihi menang lotre! Namun alhamdulillah, dari drama itulah saya jadi terbiasa dengan HTML, CSS, JavaScript, hingga Python. Dari kegagalan itulah saya belajar bagaimana "menyembuhkan" sistem hingga semuanya normal kembali.

Pandangan Sebelah Mata Sebagai Motivasi

Dulu, saya sering dipandang sebelah mata karena keterbatasan finansial maupun latar belakang pendidikan yang minim. Apakah saya berkecil hati? Tidak. Justru keraguan dari lingkungan sekitar saya jadikan pemacu semangat. Saya pelajari apa yang perlu saya tingkatkan agar bisa melampaui anggapan tersebut, dan saya buktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bertumbuh.

Renungan: Melihat ke Bawah

"Saat merasa lelah, cobalah menatap ke bawah. Di sana masih banyak orang yang kondisinya jauh lebih sulit dari kita, namun mereka tidak sedikit pun mengendurkan tekadnya. Jika mereka bisa bertahan dan terus berjuang, kenapa kita yang memiliki peluang lebih baik justru membuang waktu? Jangan berhenti belajar sebelum bermanfaat."

Ampli Berdengung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cara Mengatasi Dengung pada Ampli (Hum & Noise Mengganggu)

Dengung pada amplifier sering bikin pusing, apalagi saat volume kecil tapi suara hum tetap terdengar. Masalah ini umum terjadi pada ampli rumahan, rakitan, maupun ampli bekas. Kabar baiknya, sebagian besar penyebabnya bisa diatasi tanpa ganti komponen mahal.

Ilustrasi amplifier audio mengalami dengung atau noise
Gambar: Dengung (hum) pada amplifier akibat gangguan kelistrikan

Penyebab Umum Ampli Berdengung

Dengung biasanya muncul karena gangguan listrik atau tata rangkaian yang kurang tepat. Suaranya bisa rendah seperti “nguuung” atau berdengung halus tapi terus-menerus.

Beberapa Penyebab yang Paling Sering:

  • Grounding tidak bagus atau tidak tersambung dengan benar
  • Kabel input terlalu dekat dengan trafo atau kabel AC
  • Elco filter power supply sudah lemah atau kering
  • Trafo bocor medan magnet
  • Soket RCA atau jack input kendor
  • Adaptor atau sumber listrik tidak stabil

Cara Mengatasi Dengung pada Ampli

1. Periksa dan Benahi Grounding

Pastikan semua ground menyatu di satu titik (star ground). Ground yang menyebar sering menjadi biang dengung.

2. Jauhkan Kabel Sinyal dari Jalur Listrik

Kabel input (RCA) jangan sejajar atau terlalu dekat dengan kabel AC dan trafo. Jika perlu, silangkan dengan sudut 90 derajat.

3. Cek Elco Power Supply

Elco yang sudah tua biasanya menyebabkan dengung halus. Ganti elco filter dengan kapasitas dan tegangan yang sesuai.

4. Gunakan Kabel Berkualitas

Kabel RCA murahan tanpa pelindung (shield) mudah menangkap noise. Gunakan kabel audio ber-shield baik.

5. Tes Tanpa Input

Cabut semua input. Jika ampli masih berdengung, masalah ada di power supply atau rangkaian internal. Jika hilang, berarti sumber dari input atau kabel.

Dengung Berdasarkan Kondisinya

  • Dengung muncul saat volume kecil → biasanya elco atau grounding
  • Dengung bertambah saat volume naik → jalur input atau kabel
  • Dengung hilang saat input dicabut → sumber audio atau kabel RCA

⚠️ Peringatan Penting

Jangan langsung menyalahkan IC atau transistor final jika ampli berdengung. Sebagian besar kasus disebabkan oleh grounding dan power supply.

Jika Sobat tidak terbiasa bekerja dengan listrik, hindari mengutak-atik bagian power saat ampli masih terhubung ke listrik karena berisiko sengatan.

Artikel oleh ABM — Panduan teknis

2/04/2026

Dosa Jariyah Digital: Bahaya Lomba Memviralkan Aib Orang

Dosa Jariyah Digital: Bahaya Lomba Memviralkan Aib Orang

Ketika Kecepatan Jempol Mengalahkan Kebijaksanaan Hati

Ilustrasi orang yang sibuk memviralkan kejadian tanpa peduli etika

Visualisasi Internal: Menggambarkan ego manusia modern yang lebih mementingkan eksistensi digital lewat viralitas, meskipun harus mengorbankan privasi dan aib sesama demi sebuah konten.

Zaman sekarang, sepertinya ada kompetisi tidak tertulis di media sosial: siapa yang paling cepat mengunggah kejadian terbaru, dialah pemenangnya. Fenomena viralitas ini sudah masuk ke level yang brutal. Orang-orang seolah "haus" akan validasi sebagai pemberi informasi pertama, sampai-sampai mereka lupa menyaring apa yang sebenarnya sedang mereka lempar ke ruang publik.

Yang paling miris adalah ketika konten yang diviralkan itu menyangkut aib atau privasi seseorang. Ada kecenderungan kita menjadi acuh tak acuh; tidak peduli apakah itu benar atau salah, tidak peduli apakah itu menghancurkan mental orang lain, yang penting viewers naik dan kita dianggap paling update. Padahal, tanpa kita sadari, setiap kali kita menyebarkan aib individu, kita sedang menyicil pembangunan menara Dosa Jariyah Digital.

"Dosa jariyah digital itu nyata. Ia akan terus mengalir dan bertambah setiap kali orang lain melihat, menyimpan, dan membagikan kembali aib yang pernah kita unggah, bahkan saat kita sudah tidak lagi berada di dunia ini."

Coba kita renungkan sejenak dari sisi spiritual. Dalam hukum Islam, urusan dengan sesama manusia itu berat karena syarat taubatnya adalah mendapatkan keridhaan atau maaf dari yang bersangkutan. Nah, bayangkan kita memviralkan seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Kita tidak tahu rumahnya di mana, tidak tahu siapa namanya, tapi aibnya sudah kita sebar ke jutaan orang. Bagaimana caranya kita minta maaf secara langsung? Bagaimana kita bisa memastikan orang itu ikhlas sementara jejak digitalnya sudah abadi di internet? Ini adalah kerugian finansial akhirat yang luar biasa besar.

Fenomena ini sangat berbahaya karena kita seringkali merasa "berjasa" memberi informasi, padahal sebenarnya kita hanya sedang memanen amal buruk. Kita suka memviralkan apa dan siapa, padahal kenal pun tidak. Inilah jebakan teknologi jika tidak dibarengi dengan nurani.


Nah, buat teman-teman semua, jujur saja saya juga heran melihat orang yang jempolnya "gatal" sekali kalau tidak share sesuatu yang sensasional. Apa sih yang dikejar? Pujian sebagai orang paling informatif? Atau sekadar kepuasan batin melihat orang lain dihujat?

Ingat ya, hidup di dunia maya itu singkat, tapi dampaknya bisa selamanya. Lebih baik kita balik lagi ke mode "plonga-plongo" atau diam daripada sibuk jadi admin lambe-lambean yang kerjaannya cuma nyari dosa orang. Jadi orang bermanfaat itu harus, tapi bukan dengan cara menginjak martabat orang lain demi sebuah konten.

⚠️ PERINGATAN KERAS

Hati-hati dengan jempolmu! Sebelum klik 'Share', pastikan kamu sudah siap menanggung dosanya sampai ke liang lahat jika yang kamu sebar adalah aib. Jangan sampai demi viral satu menit, kamu menyesal seumur hidup karena tidak bisa menemui orangnya untuk minta maaf. Stop jadi predator sosial digital!

πŸ’‘ Mari Kembali ke Jati Diri

Tujuan saya menulis ini sederhana: ayolah, berhenti menyakiti sesama demi konten. Ke mana perginya rasa gotong royong kita? Dulu, kalau tetangga kesusahan, kita datang bawa bantuan. Sekarang, kalau orang kesusahan atau buat salah, kita datang bawa kamera buat memviralkan.

Mari kita saling bantu, bukan saling menjatuhkan. Mari kita saling introspeksi diri daripada sibuk menguliti dosa orang lain. Dunia sudah cukup berisik dengan kebencian, jangan ditambah lagi dengan jempol kita yang tidak terjaga. Mari kita hidupkan lagi semangat gotong royong yang sebenarnya—yang melindungi, bukan yang mengekspos.

Mengapa Aku Lebih Suka Dianggap Tolol dan Tidak Penting

Mengapa Aku Lebih Suka Dianggap Tolol dan Tidak Penting

Sebuah Kisah Nyata dalam Balutan Cerita

Ilustrasi seseorang yang diabaikan namun memiliki potensi besar

Visualisasi Internal: Menggambarkan sosok yang tampak sederhana dan sering diabaikan, namun menyimpan "isi" atau kemampuan besar yang tidak terduga di balik tampilan luarnya.

Di lingkungan ini, aku dikenal sebagai sosok yang tidak penting. Casing-ku hanyalah seorang yang sering cengengesan, terlihat kuper, dan punya wajah yang orang bilang plonga-plongo. Aku sadar betul akan hal itu, dan aku justru sangat menikmati peran tersebut.

Sudah berulang kali kualami; saat aku berjalan melewati kerumunan orang yang merasa derajatnya lebih tinggi, aku dianggap tidak ada. Jangankan menyapa, menoleh pun mereka tidak sudi. Aku adalah "tong kosong" di mata mereka. Namun, di saat itulah aku merasa hidup paling tenang. Tanpa beban, tanpa ekspektasi, dan tanpa perlu memakai topeng kepalsuan.

"Aku menemukan kemerdekaan hakiki saat dianggap tidak berguna oleh mereka yang hanya melihat seseorang dari tampilan luarnya saja."

Namun, ada kalanya situasi memaksa keadaan berbalik. Suatu hari, terjadi kebuntuan yang tidak bisa dipecahkan oleh mereka yang merasa paling pintar di sana. Saat aku turun tangan dan menunjukkan sedikit saja "isi" dari tong yang mereka kira kosong ini, atmosfer mendadak berubah drastis.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang tadinya buta kini bisa melihatku. Mereka yang tadinya bisu mendadak sangat manis bicaranya. Mereka mendekat dan seolah ingin menjadi bagian dari hidupku setelah tahu ada sesuatu yang bisa diharapkan dariku. Aku hanya tersenyum dalam hati, melihat betapa dangkalnya nurani manusia saat menilai sesama.

Jujur, aku tidak sakit hati. Aku hanya heran. Kenapa hidup harus se-melelahkan itu? Mengejar derajat dan membeda-bedakan orang hanya berdasarkan tampilan atau casing. Padahal, esensi manusia seharusnya dilihat dari nilai manfaatnya, bukan dari seberapa mengkilap kemasannya. Bagiku, lebih baik kembali menjadi si plonga-plongo yang diabaikan, karena di sana aku bisa menikmati hidup tanpa beban dimanfaatkan hanya karena mereka tahu aku punya "isi".

Catatan Penulis: Menjadi bermanfaat adalah keharusan, namun dihargai hanya karena tampilan adalah sebuah kepalsuan. Cerita ini adalah pengingat agar kita berhenti menilai buku hanya dari sampulnya.

Pudarnya Empati: Ketika Kepedulian Terhalang oleh Derajat Sosial

Etika Transaksional: Ketika Kepedulian Mulai Pilih-Pilih

Visualisasi ketimpangan empati sosial

Visualisasi Internal: Kontras antara penghormatan pada status sosial dengan pengabaian terhadap sesama yang membutuhkan di sekitar kita.

Refleksi atas fenomena "Hormat ke Atas, Buta ke Bawah"

Fenomena sosial yang kita saksikan saat ini menunjukkan pergeseran budaya yang cukup memprihatinkan. Penghormatan dan kebaikan kini sering kali tidak lagi diberikan secara tulus berdasarkan nilai kemanusiaan, melainkan didasari oleh derajat sosial dan asas manfaat.

1. Budaya "Hormat Berdasarkan Kasta"

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang cenderung bersikap ekstra sopan dan dermawan kepada mereka yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi. Namun, ironisnya, sikap yang sama jarang ditemukan saat berhadapan dengan orang-orang yang dianggap "biasa saja" atau tidak memiliki pengaruh bagi kepentingan pribadinya.

2. Tren Pragmatisme Sosial

Tren saat ini cenderung mengarah pada seleksi hubungan. Orang-orang menjadi sangat jeli melihat siapa yang mampu memberikan keuntungan (materi maupun koneksi) dan justru menutup mata terhadap lingkungan sekitar yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan.

  • Individualisme: Mementingkan diri sendiri di atas segalanya.
  • Buta Sosial: Ketidakmampuan melihat penderitaan orang di sekeliling.
  • Krisis Empati: Menurunnya rasa iba jika tidak ada imbal balik yang jelas.

Kesimpulan

Rasa sosial yang pilih-pilih ini semakin hari semakin memprihatinkan. Tanpa kesadaran untuk kembali melihat ke sekeliling secara tulus, kita berisiko kehilangan jati diri sebagai makhluk sosial yang peduli.

Wirausaha dan Belajar Otodidak: Bertahan Hidup dengan Disiplin Tinggi

Wirausaha dan Belajar Otodidak: Bertahan Hidup dengan Disiplin Tinggi

Di era modern saat ini, mendapatkan pekerjaan bukanlah perkara mudah. Selain tuntutan kualitas diri yang tinggi, persaingan yang ketat memaksa banyak orang untuk mengambil jalur wirausaha mandiri dan belajar segala sesuatunya secara otodidak demi menyambung hidup.

Anatomi Komponen Teknis - Panduan Belajar Otodidak

Visualisasi Internal: Memahami detail komponen teknis melalui metode trial and error adalah kunci keberhasilan belajar mandiri dalam berwirausaha.

1. Tantangan Belajar Mandiri di Dunia Usaha

Jika ditanya mana yang lebih sulit antara belajar akademis atau otodidak, jawabannya jelas: jauh lebih sulit belajar mandiri. Dalam wirausaha, Anda tidak hanya belajar teori, tetapi langsung terjun ke lapangan menghadapi masalah nyata.

Metode Kerja dan Risiko Kegagalan

Metode kerja otodidak mengharuskan Anda menemukan masalah dan mencari solusinya sendiri. Proses ini sering kali diwarnai rentetan kegagalan. Tidak ada dosen atau instruktur; setiap kesalahan dalam praktik langsung berdampak pada modal dan kelangsungan usaha Anda.

2. Manajemen Usaha Kecil dan Kedisiplinan

Membuka usaha sendiri, baik di bidang jasa teknis maupun kuliner, memerlukan manajemen yang kuat. Tanpa manajemen yang tepat, usaha sehebat apa pun akan terhambat atau bahkan berisiko bangkrut di tengah jalan.

Bahaya "Kasbon" dan Empati yang Salah

Salah satu hambatan terbesar adalah ketidakteraturan arus kas akibat kebiasaan kasbon dari konsumen. Banyak pengusaha pemula gagal karena terjebak rasa "tidak enak" atau empati berlebihan. Padahal, ketegasan dalam aturan jual beli adalah kunci agar modal tidak macet.

"Manajemen yang buruk adalah jalan pintas menuju kegagalan usaha, dan ketegasan adalah benteng pertahanan modal Anda."
PERINGATAN & STRATEGI:

Hindari memberikan kasbon kepada konsumen, terutama di awal usaha. Belajar otodidak mendidik kita untuk kuat secara mental menghadapi masalah, maka terapkan mentalitas yang sama dalam mengelola keuangan. Ketegasan Anda hari ini adalah jaminan kelangsungan usaha Anda di masa depan.

Semoga kita semua diberikan kemudahan dan keteguhan dalam mengelola usaha serta terus konsisten belajar secara mandiri agar bisnis terus berkembang.