Dosa Jariyah Digital: Bahaya Lomba Memviralkan Aib Orang
Ketika Kecepatan Jempol Mengalahkan Kebijaksanaan Hati
Visualisasi Internal: Menggambarkan ego manusia modern yang lebih mementingkan eksistensi digital lewat viralitas, meskipun harus mengorbankan privasi dan aib sesama demi sebuah konten.
Zaman sekarang, sepertinya ada kompetisi tidak tertulis di media sosial: siapa yang paling cepat mengunggah kejadian terbaru, dialah pemenangnya. Fenomena viralitas ini sudah masuk ke level yang brutal. Orang-orang seolah "haus" akan validasi sebagai pemberi informasi pertama, sampai-sampai mereka lupa menyaring apa yang sebenarnya sedang mereka lempar ke ruang publik.
Yang paling miris adalah ketika konten yang diviralkan itu menyangkut aib atau privasi seseorang. Ada kecenderungan kita menjadi acuh tak acuh; tidak peduli apakah itu benar atau salah, tidak peduli apakah itu menghancurkan mental orang lain, yang penting viewers naik dan kita dianggap paling update. Padahal, tanpa kita sadari, setiap kali kita menyebarkan aib individu, kita sedang menyicil pembangunan menara Dosa Jariyah Digital.
"Dosa jariyah digital itu nyata. Ia akan terus mengalir dan bertambah setiap kali orang lain melihat, menyimpan, dan membagikan kembali aib yang pernah kita unggah, bahkan saat kita sudah tidak lagi berada di dunia ini."
Coba kita renungkan sejenak dari sisi spiritual. Dalam hukum Islam, urusan dengan sesama manusia itu berat karena syarat taubatnya adalah mendapatkan keridhaan atau maaf dari yang bersangkutan. Nah, bayangkan kita memviralkan seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Kita tidak tahu rumahnya di mana, tidak tahu siapa namanya, tapi aibnya sudah kita sebar ke jutaan orang. Bagaimana caranya kita minta maaf secara langsung? Bagaimana kita bisa memastikan orang itu ikhlas sementara jejak digitalnya sudah abadi di internet? Ini adalah kerugian finansial akhirat yang luar biasa besar.
Fenomena ini sangat berbahaya karena kita seringkali merasa "berjasa" memberi informasi, padahal sebenarnya kita hanya sedang memanen amal buruk. Kita suka memviralkan apa dan siapa, padahal kenal pun tidak. Inilah jebakan teknologi jika tidak dibarengi dengan nurani.
Nah, buat teman-teman semua, jujur saja saya juga heran melihat orang yang jempolnya "gatal" sekali kalau tidak share sesuatu yang sensasional. Apa sih yang dikejar? Pujian sebagai orang paling informatif? Atau sekadar kepuasan batin melihat orang lain dihujat?
Ingat ya, hidup di dunia maya itu singkat, tapi dampaknya bisa selamanya. Lebih baik kita balik lagi ke mode "plonga-plongo" atau diam daripada sibuk jadi admin lambe-lambean yang kerjaannya cuma nyari dosa orang. Jadi orang bermanfaat itu harus, tapi bukan dengan cara menginjak martabat orang lain demi sebuah konten.
⚠️ PERINGATAN KERAS
Hati-hati dengan jempolmu! Sebelum klik 'Share', pastikan kamu sudah siap menanggung dosanya sampai ke liang lahat jika yang kamu sebar adalah aib. Jangan sampai demi viral satu menit, kamu menyesal seumur hidup karena tidak bisa menemui orangnya untuk minta maaf. Stop jadi predator sosial digital!
💡 Mari Kembali ke Jati Diri
Tujuan saya menulis ini sederhana: ayolah, berhenti menyakiti sesama demi konten. Ke mana perginya rasa gotong royong kita? Dulu, kalau tetangga kesusahan, kita datang bawa bantuan. Sekarang, kalau orang kesusahan atau buat salah, kita datang bawa kamera buat memviralkan.
Mari kita saling bantu, bukan saling menjatuhkan. Mari kita saling introspeksi diri daripada sibuk menguliti dosa orang lain. Dunia sudah cukup berisik dengan kebencian, jangan ditambah lagi dengan jempol kita yang tidak terjaga. Mari kita hidupkan lagi semangat gotong royong yang sebenarnya—yang melindungi, bukan yang mengekspos.