Haus Ilmu: Perjuangan Otodidak dari Mesin hingga Coding
Banyak yang bertanya, kenapa saya seolah tidak pernah berhenti belajar? Mulai dari mendalami teknik otomotif, mengoprek jaringan internet, hingga mempelajari teknologi digital terbaru. Jawaban saya sederhana: Karena saya merasa masih bodoh.
Sampai kapan pun, saya ingin terus haus akan ilmu. Bagi saya, ilmu apa pun itu—asalkan positif—harus dipelajari sampai tuntas. Saya tidak akan berhenti sebelum saya benar-benar menguasainya. Inilah prinsip hidup yang membawa saya sampai ke titik ini.
Visualisasi Internal: Semangat pantang menyerah dalam mempelajari hal baru meski tanpa pembimbing formal.
Tantangan Dunia Blogging & Coding
Terjun ke dunia blogging ternyata membawa tantangan baru yang bagi saya terasa sangat berat. Saya dipaksa untuk mengenal dunia coding yang awalnya sangat asing dan rumit. Mungkin bagi orang lain ini hal biasa, namun bagi saya, terjebak dalam error yang tidak kunjung selesai adalah ujian kesabaran yang nyata.
Mencoba skrip sana-sini, seringkali berakhir gagal, dan harus mengulang dari awal tanpa ada pembimbing yang menuntun. Rasanya dunia pemrograman itu penuh dengan "Jebakan Betmen"; niatnya cuma mau ganti warna tombol, tapi malah satu layout blog hilang entah ke mana. Mengedit HTML editor itu kadang lebih horor daripada bongkar mesin yang macet, karena salah hapus satu tanda kurung saja, satu blog bisa langsung blank putih!
Belum lagi kalau sudah menyentuh Python. Salah naruh spasi sedikit saja, program langsung mogok. Kalau sudah begini, rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai tidak sadar sudah menghabiskan kopi se-panci cuma buat nyari satu titik kesalahan! hhhhh.
Ada saatnya saya merasa seperti orang gila; pusing sendiri, marah-marah sendiri karena kode nggak jalan, tapi tiba-tiba ketawa sendiri pas ketemu solusinya. Perasaan senangnya itu melebihi menang lotre! Namun alhamdulillah, dari drama itulah saya jadi terbiasa dengan HTML, CSS, JavaScript, hingga Python. Dari kegagalan itulah saya belajar bagaimana "menyembuhkan" sistem hingga semuanya normal kembali.
Pandangan Sebelah Mata Sebagai Motivasi
Dulu, saya sering dipandang sebelah mata karena keterbatasan finansial maupun latar belakang pendidikan yang minim. Apakah saya berkecil hati? Tidak. Justru keraguan dari lingkungan sekitar saya jadikan pemacu semangat. Saya pelajari apa yang perlu saya tingkatkan agar bisa melampaui anggapan tersebut, dan saya buktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bertumbuh.
Renungan: Melihat ke Bawah
"Saat merasa lelah, cobalah menatap ke bawah. Di sana masih banyak orang yang kondisinya jauh lebih sulit dari kita, namun mereka tidak sedikit pun mengendurkan tekadnya. Jika mereka bisa bertahan dan terus berjuang, kenapa kita yang memiliki peluang lebih baik justru membuang waktu? Jangan berhenti belajar sebelum bermanfaat."