Hakikat Hidayah: Mengapa Taubat Bukan Sekadar karena Sudah Tua

Hakikat Hidayah dan Kematian: Mengapa Taubat Bukan Sekadar Perkara "Sudah Tua"

Ilustrasi seseorang yang merenung meresapi hidayah dan cahaya Ilahi di sisa usianya

Hidayah adalah cahaya yang membangunkan jiwa dari tidur panjangnya, tidak peduli di angka berapa usia manusia bersandar.

Perjalanan hidup manusia adalah sebuah misteri yang utuh berada dalam genggaman Sang Maha Pencipta. Sering kali di tengah kehidupan bermasyarakat, kita dihadapkan pada sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengundang tanda tanya: seseorang yang dahulunya dikenal kelam, jauh dari tuntunan agama, atau bahkan terkenal sebagai pelaku maksiat, tiba-tiba mengalami perubahan drastis hingga 90 derajat. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang gemar ke masjid, tutur katanya melembut, dan sisa hidupnya dihabiskan untuk beribadah.

Di sinilah letak ujian pandangan mata hati kita. Respon paling umum yang sering terucap dari lisan masyarakat awam adalah kalimat bernada sinis atau meremehkan, "Wajar saja dia tobat, umurnya juga sudah tua, mau cari apa lagi?" Kalimat sederhana ini, jika dibedah menggunakan kacamata tasawuf dan kedalaman spiritual, sesungguhnya adalah sebuah kesesatan berpikir yang sangat fatal. Mengaitkan perubahan spiritual (hidayah) semata-mata dengan faktor ketuaan adalah bentuk kebutaan batin kita dalam melihat campur tangan Allah SWT.

1. Tua Belum Tentu Terbuka Batinnya (Makin Tua Makin Menjadi)

Pertama-tama, kita harus meluruskan satu kaidah dasar: usia tua sama sekali bukan jaminan seseorang akan otomatis bertaubat atau menjadi lebih baik. Jika kita mau membuka mata lebar-lebar dan melihat realita di sekeliling kita, betapa banyak orang yang usianya sudah senja, rambutnya sudah memutih, dan kulitnya sudah keriput, namun hatinya justru semakin keras dan terikat pada dunia? Bukankah banyak pepatah yang mengatakan "makin tua makin menjadi"?

Hal ini membuktikan bahwa hidayah tidak datang secara otomatis seiring bertambahnya angka di KTP. Hidayah murni datang dari Allah SWT. Dalam ilmu tasawuf, hidayah dipandang sebagai nur (cahaya) Ilahi yang menembus relung hati seorang hamba yang dikehendaki-Nya. Sering kali, perubahan besar pada diri seseorang berawal dari sebuah peristiwa atau tragedi yang ia alami—seperti kehilangan orang yang dicintai, kebangkrutan, atau penyakit parah. Peristiwa tersebut hanyalah jalan atau asbab yang Allah kirimkan agar hati orang tersebut pecah dan akhirnya mampu merespon cahaya dari-Nya. Tanpa kehendak Allah, peristiwa sedahsyat apa pun hanya akan berlalu tanpa makna bagi hati yang telah mati.

2. Hakikat Terbangun dari Tidur yang Panjang

Ketika kita melihat seorang kakek atau nenek yang tiba-tiba menemukan jalan kebenaran di sisa usianya, sesungguhnya kita sedang menyaksikan sebuah proses "kebangkitan" jiwa. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah menyampaikan sebuah petuah yang sangat mendalam: "Manusia itu sejatinya sedang tertidur, dan ketika mereka mati, barulah mereka terbangun."

Seseorang yang sepanjang hidupnya tenggelam dalam gemerlap dunia dan maksiat, pada hakikatnya jiwanya sedang terlelap dalam mimpi panjang fatamorgana dunia. Ketika Allah SWT menganugerahkan hidayah di masa tuanya, itu berarti Allah sedang "membangunkan" orang tersebut sebelum kematian yang sesungguhnya tiba. Ia tersadar. Ia menangis menyesali masa mudanya yang terbuang sia-sia. Itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa—memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk membersihkan diri sebelum kembali menghadap-Nya.

"Meremehkan taubatnya seseorang karena alasan usia adalah bentuk kesombongan spiritual paling halus yang menipu diri kita sendiri."

3. Jebakan Merasa Kematian Masih Lama Bagi Kaum Muda

Lalu, bagaimana dengan kita yang kebetulan masih diberikan usia muda? Di sinilah bahaya terbesar mengintai. Ketika anak-anak muda melihat orang tua yang bertaubat dan berkata "Ya wajar, dia kan udah bau tanah", tanpa sadar mereka sedang memelihara sebuah ilusi yang ditanamkan oleh iblis, yaitu ilusi bahwa "kematian masih lama".

Sikap menganggap remeh perubahan orang tua itu hakikatnya menunjukkan bahwa kita telah lupa akan hakikat kematian. Kematian adalah satu-satunya kepastian di dunia ini yang tidak pernah melihat daftar urut usia. Malaikat Izrail tidak pernah memeriksa KTP untuk melihat apakah kita masih berusia 20 tahun, tubuh kita masih bugar, atau kita masih memiliki impian yang belum tercapai. Kematian bisa datang tiba-tiba: di jalan raya, di ranjang saat kita sedang tertidur lelap, atau bahkan saat kita sedang berada di puncak kejayaan duniawi.

Ketika kita berkata, "Dia tobat karena sudah tua," sesungguhnya secara tidak langsung alam bawah sadar kita sedang menjerit, mengingatkan kita sendiri bahwa kematian itu nyata dan tidak memilih umur. Jika orang tua itu masih diberi "kesempatan emas" berupa teguran dan hidayah sebelum ajalnya tiba, lantas apa jaminannya kita yang masih muda ini akan mendapatkan kesempatan yang sama? Bagaimana jika kejadian tak terduga—kecelakaan atau musibah—menjemput kita esok hari dan kita belum sempat meneteskan air mata taubat sedikit pun?

4. Menyikapi Hidayah dengan Rasa Syukur dan Khauf (Takut)

Oleh karena itu, sudut pandang kita harus segera diubah. Jika suatu saat kita melihat seseorang yang sudah tua renta tiba-tiba bertaubat dan menjadi ahli ibadah, jangan pandang dia dengan tatapan sinis. Pandanglah dia dengan penuh rasa haru dan jadikan itu sebagai cermin besar bagi diri kita sendiri. Katakan di dalam hati, "Masya Allah, beruntungnya beliau. Allah masih menyayanginya dan memberinya waktu untuk menghapus dosa-dosanya sebelum ia wafat."

Setelah itu, balikan pertanyaan tersebut menembus dada kita sendiri. Kita yang merasa hari ini masih sehat, masih muda, dan masih merasa punya banyak waktu: jangan menunda taubat menunggu hari tua. Sebab esok adalah misteri, dan menunda kebaikan karena merasa umur masih panjang adalah bentuk ketertipuan jiwa yang paling nyata. Jangan sampai kita mati dalam keadaan tertidur lelap oleh dunia, dan baru terbangun ketika semuanya sudah terlambat.

Kolom Renungan Batin

Mari sejenak menundukkan kepala, mengheningkan cipta, dan bertanya jujur pada kedalaman hati kita:

  • Berapa banyak kawan atau kerabat seumuran kita yang kemarin masih tertawa bersama, hari ini sudah tertimbun tanah pusara tanpa sempat menyadari ajalnya tiba?
  • Jika seorang yang sudah menua diberi hidayah karena Allah berbelas kasih kepadanya, apakah kita cukup sombong untuk merasa pasti akan diberi hidayah yang sama di masa depan?
  • Apakah selama ini kita menggunakan "usia muda" sebagai tameng dan alasan untuk bebas bermaksiat, padahal kain kafan untuk kita mungkin sudah selesai ditenun?
  • Sudahkah kita "terbangun" hari ini, ataukah kita masih terlelap dalam mimpi dunia yang takkan pernah bisa kita bawa mati?

Hakikatnya, hidayah adalah milik Allah semata. Mari kita sibukkan diri mencari keridaan-Nya, menyegerakan taubat di kala muda, dan tidak lagi terjebak menghakimi jalan spiritual orang lain. Sebab, pada akhirnya, kita semua sedang mengantre di pintu yang sama bernama kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar