2/04/2026

Mengapa Aku Lebih Suka Dianggap Tolol dan Tidak Penting

Mengapa Aku Lebih Suka Dianggap Tolol dan Tidak Penting

Sebuah Kisah Nyata dalam Balutan Cerita

Ilustrasi seseorang yang diabaikan namun memiliki potensi besar

Visualisasi Internal: Menggambarkan sosok yang tampak sederhana dan sering diabaikan, namun menyimpan "isi" atau kemampuan besar yang tidak terduga di balik tampilan luarnya.

Di lingkungan ini, aku dikenal sebagai sosok yang tidak penting. Casing-ku hanyalah seorang yang sering cengengesan, terlihat kuper, dan punya wajah yang orang bilang plonga-plongo. Aku sadar betul akan hal itu, dan aku justru sangat menikmati peran tersebut.

Sudah berulang kali kualami; saat aku berjalan melewati kerumunan orang yang merasa derajatnya lebih tinggi, aku dianggap tidak ada. Jangankan menyapa, menoleh pun mereka tidak sudi. Aku adalah "tong kosong" di mata mereka. Namun, di saat itulah aku merasa hidup paling tenang. Tanpa beban, tanpa ekspektasi, dan tanpa perlu memakai topeng kepalsuan.

"Aku menemukan kemerdekaan hakiki saat dianggap tidak berguna oleh mereka yang hanya melihat seseorang dari tampilan luarnya saja."

Namun, ada kalanya situasi memaksa keadaan berbalik. Suatu hari, terjadi kebuntuan yang tidak bisa dipecahkan oleh mereka yang merasa paling pintar di sana. Saat aku turun tangan dan menunjukkan sedikit saja "isi" dari tong yang mereka kira kosong ini, atmosfer mendadak berubah drastis.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang tadinya buta kini bisa melihatku. Mereka yang tadinya bisu mendadak sangat manis bicaranya. Mereka mendekat dan seolah ingin menjadi bagian dari hidupku setelah tahu ada sesuatu yang bisa diharapkan dariku. Aku hanya tersenyum dalam hati, melihat betapa dangkalnya nurani manusia saat menilai sesama.

Jujur, aku tidak sakit hati. Aku hanya heran. Kenapa hidup harus se-melelahkan itu? Mengejar derajat dan membeda-bedakan orang hanya berdasarkan tampilan atau casing. Padahal, esensi manusia seharusnya dilihat dari nilai manfaatnya, bukan dari seberapa mengkilap kemasannya. Bagiku, lebih baik kembali menjadi si plonga-plongo yang diabaikan, karena di sana aku bisa menikmati hidup tanpa beban dimanfaatkan hanya karena mereka tahu aku punya "isi".

Catatan Penulis: Menjadi bermanfaat adalah keharusan, namun dihargai hanya karena tampilan adalah sebuah kepalsuan. Cerita ini adalah pengingat agar kita berhenti menilai buku hanya dari sampulnya.

Bangali

Bangali

abm, Pendiri abm media, belajar ngeblog sekaligus berbagi klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :


EmoticonEmoticon