HAKIKAT KEFAKIRAN: Mengubur Kesombongan di Balik Pinjaman Tuhan
Visualisasi Internal: Cahaya yang masuk ke dalam air yang tenang, simbol hati yang bening tanpa penghakiman.
Kekuatan tertinggi seorang hamba bukan terletak pada seberapa banyak yang ia genggam, melainkan pada seberapa tulus ia menyadari bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Ketika kita mengulurkan tangan untuk memberi, hakikatnya bukan kita yang memberi. Kita hanyalah perantara dari sebuah titipan. Memberi adalah bukti paling jujur bahwa kita telah merasa cukup; sebuah tanda bahwa kita telah selesai dengan urusan ego diri sendiri dan mulai memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.
Bagaimana mungkin terbersit rasa lebih baik dari orang lain, sedangkan kita tahu bahwa setiap saat Tuhan berkuasa membolak-balikkan keadaan? Dia berkuasa menukar garis hidupku hingga aku berada di posisi orang itu, dan mengangkat orang itu hingga berada di posisiku dalam sekejap mata sesuai kehendak-Nya. Derajat yang kita sandang, ilmu yang kita banggakan, dan kehormatan yang kita jaga, semuanya adalah pinjaman yang bisa ditarik kembali tanpa pemberitahuan. Saat kita merasa lebih mulia dari sesama, di situlah kita sedang menipu diri sendiri atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.
Dalam keriuhan sosial, mata batin kita mungkin sering kali menangkap kepalsuan; kita tahu siapa yang membohongi dan siapa yang memanfaatkan. Namun, menjadi tahu bukan berarti menjadi pendendam. Menghargai atau tidaknya orang lain adalah urusan mereka dengan Tuhannya, sedangkan urusan kita adalah menjaga agar hati tetap jernih dan hanya bergantung pada Sang Pencipta. Jangan biarkan ruang di dalam jiwa kosong, sebab pikiran negatif akan cepat bersemayam di sana. Perbanyaklah aktivitas yang bermanfaat, hingga kita tidak lagi memiliki waktu untuk sekadar mencari kesalahan sesama.
Seringkali, apa yang terlihat buruk dan dianggap buruk oleh pandangan manusia, justru menyimpan rahmat yang besar bagi kita. Setiap kali mata kita menangkap cela pada orang lain, ketahuilah bahwa itu adalah peringatan keras bagi diri sendiri, bukan mandat untuk menghakimi. Dunia ini adalah cermin; apa yang kita benci pada orang lain, bisa jadi adalah benih yang juga ada dalam diri kita. Berhenti merasa benar, berhenti merasa suci, karena pada akhirnya kita semua hanyalah musafir yang sedang mengantre di depan pintu keadilan-Nya.
"Kebaikanmu adalah milik-Nya, Alloh Swt,kekuranganmu adalah milikmu. Maka tak ada celah bagi kesombongan bagi mereka yang sadar bahwa dirinya hanyalah debu di hadapan Sang Pemilik Semesta."
Tawadhu bukan merendahkan diri, tapi menyadari bahwa kita tak punya alasan untuk merasa tinggi.
EmoticonEmoticon