fenomena

Lunturnya Jiwa Sosial: Kenapa Sekarang "Yang Penting Aku Makan"?

Bangali September 21, 2026
ABM Garage

ABM Garage

Publisher sejak 2017

RENUNGAN · KEHIDUPAN

Penyebab Lunturnya Jiwa Sosial: Kenapa Sekarang "Yang Penting Aku Bisa Makan"?

Dulu peka tanpa diberi tahu. Sekarang di sebelah pun tak sadar. Apa yang terjadi pada kita?

Lunturnya jiwa sosial — kenapa kita makin peduli diri sendiri saja

Jiwa sosial tidak hilang, hanya tertidur. Tugas kita membangunkannya kembali.

Dulu, kalau ada tetangga yang tak makan dua hari, kita sudah tahu tanpa dia bilang. Dapur tak mengepul, jemuran sepi, anak tak jajan — hati kita langsung peka. Sekarang, di sebelah rumah ada yang tiga hari tak keluar, kita tak tahu. Pagar tinggi, pintu tertutup, masing-masing sibuk dengan urusan perut sendiri.

Inilah yang sedang terjadi. Perlahan, jiwa sosial kita luntur. Digantikan satu prinsip yang makin diterima: "Yang penting aku bisa makan, masa bodoh orang lain."

Bukan karena manusia sekarang lebih jahat. Tapi karena sistem hidup yang perlahan membentuk kita jadi begini.

1. Ekonomi Memaksa Kita Bertahan Sendiri

Alasan paling jujur: biaya hidup naik terus, penghasilan jalan di tempat. Beras naik, uang sekolah naik, sewa naik. Akibatnya, otak kita masuk mode bertahan.

Dalam mode ini, empati jadi barang mewah. Kalau kepala pusing memikirkan besok makan apa, cicilan bagaimana, sulit rasanya memikirkan tetangga yang juga lapar. Fokus menyempit: saya, istri, anak saya. Yang lain urusan belakangan.

Dari sini lahir sifat berebut. Semua orang takut miskin, jadi saat ada kesempatan langsung disambar. Ada proyek, sikut sana-sini. Ada bantuan, yang mampu pun ikut antri. Bukan karena bawaan jahat, tapi karena terbayang: kalau aku tak ambil, besok keluargaku yang susah.

Dulu susahnya merata, satu kampung sama-sama sederhana, jadi tolong-menolong wajar. Sekarang kesenjangan makin lebar. Yang miskin takut makin jatuh, yang kaya takut turun ke bawah. Semua berlomba mengamankan diri, lupa menoleh kiri-kanan.

2. Teknologi — Dekat dengan yang Jauh, Jauh dengan yang Dekat

Dulu hiburan itu ngobrol di pos ronda, di warung, di teras. Kita tahu siapa sakit, siapa hajatan, siapa bermasalah. Informasi mengalir lewat tatap muka, bukan lewat status.

Sekarang HP dan layar memutus jalinan itu. Kita lebih tahu kabar artis jauh daripada nama tetangga sebelah. Kita lebih peduli berapa like daripada apakah orang di samping sudah makan. Duduk satu meja makan, tapi masing-masing menatap layar.

Kepekaan itu dilatih lewat wajah yang dilihat langsung — raut pucat, suara lemah, anak yang tak ceria. Kalau yang dilihat cuma layar, radar itu mati. Dulu peka tanpa kabar karena kita melihat langsung. Sekarang tak peka karena kita melihat lewat layar.

3. Gotong Royong Berganti Transaksi

Dulu bangun rumah, panen, mengantar jenazah — semua bersama, tak dihitung uang. Balasannya bukan rupiah, tapi kepastian: hari ini aku bantu kamu, besok kamu bantu aku.

Sekarang hampir semua jadi hitungan. Bantu angkat barang dihitung upah. Jaga anak sebentar ditanya bayaran. Bahkan di keluarga sendiri, bantu orang tua dipikirkan warisannya nanti berapa.

Saat semua diuangkan, empati perlahan hilang. Logikanya berubah jadi untung-rugi: kalau bantu dia tak ada untungnya buatku, buat apa? Padahal gotong royong dulu untungnya bukan uang — rasa aman. Rasa bahwa kalau aku jatuh, ada tangan yang menahan. Rasa itulah yang sekarang hilang.

4. Pintar, Tapi Tak Diajarkan Peduli

Sekolah mengajar hitungan, bahasa, cara masuk universitas, cara dapat gaji besar. Tapi jarang mengajar: cara mengetuk pintu tetangga yang tak keluar rumah seharian. Cara berbagi sedikit rezeki. Cara malu makan enak saat orang di sebelah lapar.

Lahirlah generasi yang cerdas secara akademik, tapi buta sosial. IPK tinggi, tapi tak merasakan beban orang lain. Prinsip "yang penting aku" tumbuh sejak kecil, karena memang diarahkan ke sana.

Dulu pendidikan terjadi di rumah, di surau, di sawah. Diajarkan: kalau rezeki lebih, bagi. Kalau tetangga susah, tengok. Malu makan enak sendirian. Sekarang rasa malu itu berganti: malu tak punya mobil baru, malu HP lama — tapi tak malu membiarkan orang di sebelah kesusahan.

🌱 Lalu Bagaimana Mengembalikannya?

Lunturnya jiwa sosial tak bisa dikembalikan dengan ceramah. Harus dengan latihan kecil setiap hari:

  1. Buka kembali radar hati. Coba sehari tanpa HP saat di rumah. Lihat sekeliling. Siapa yang biasanya ramai tiba-tiba sepi? Siapa anak yang biasanya main tak terlihat? Datangi, tanya kabar. Tak perlu bawa apa-apa dulu, cukup hadir.
  2. Kembalikan kebersamaan kecil. Tak perlu langsung bangun rumah. Bersihkan selokan bersama, ronda bergilir, arisan yang tak cuma bicara uang tapi juga siapa yang sedang sakit dan butuh bantuan.
  3. Ajarkan ulang arti sukses. Tunjukkan pada anak: sukses itu bukan makan enak sendiri, tapi seberapa banyak orang yang bisa ikut makan karena keberhasilan kita. Ubah "yang penting aku makan" jadi "yang penting kita semua makan".

Dulu tanpa WhatsApp, tanpa Instagram, kita tahu siapa yang lapar tanpa dikabari. Karena hati kita dilatih peka. Sekarang dengan segala canggih, kita tak tahu apa-apa — karena hati sibuk dengan diri sendiri.

Jiwa sosial tak hilang — hanya tertidur. Tertutup pagar tinggi, layar HP, dan rasa takut miskin. Tugas kita membangunkannya kembali, satu teguran sapa dalam satu waktu.

Karena pada akhirnya, manusia tak akan diingat karena berapa banyak yang ia makan sendiri. Tapi karena berapa banyak orang yang ia bantu untuk bisa makan.


#Renungan #JiwaSosial #Kebersamaan #GotongRoyong #Kehidupan

Tinggalkan Balasan