Apa yang dilihat anak hari ini, akan menjadi wataknya di masa depan.
Apa yang Kita Tunjukkan ke Anak, Itulah yang Akan Tumbuh di Diri Mereka
Renungan untuk setiap orang tua yang mencintai anaknya
Sungguh fenomena yang memprihatinkan kita lihat hari ini. Banyak orang tua seakan lupa diri, lebih mementingkan kesenangan pribadi tanpa peduli lagi terhadap perkembangan dan pertumbuhan si buah hati. Hiburan yang sejatinya hanya pantas untuk orang dewasa — pakaian yang terbuka, tontonan yang tidak pantas, hal-hal yang seharusnya belum boleh dilihat mata anak — justru diperlihatkan dengan santainya, bahkan dibawa serta anak yang masih berusia balita ke dalamnya.
Anehnya, tidak ada satu pun orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi tidak baik. Seburuk apa pun kehidupan yang kita jalani, pasti kita ingin anak-anak kita menjadi lebih baik dari kita. Namun ironisnya, hal-hal yang tidak pantas itu justru diperlihatkan dengan bangga di hadapan mereka. Seakan-akan tidak ada yang perlu dijaga dari pandangan mata kecil yang polos itu.
Lalu waktu berlalu. Anak tumbuh besar. Dan ketika ia mulai menirukan apa yang dulu pernah dilihat dan didengarnya, orang tua justru marah-marah, mengeluh, dan berkata: "Anak ini susah sekali diatur! Tidak tahu saja sopan santunnya!"
Tapi cobalah kita menoleh sejenak ke masa lalu. Apa yang dulu pernah kita suguhkan ke hadapan si buah hati? Apa yang masuk ke matanya, apa yang masuk ke telinganya sejak ia masih kecil?
Ketahuilah, otak anak itu bagaikan kertas putih yang bersih. Apa pun yang ia lihat dan dengar, semuanya akan terekam rapi di dalamnya. Ia belum mampu menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Ia hanya melihat, meniru, dan menyimpan di dalam ingatannya. Lalu ketika ia menirukan itu semua kelak, janganlah kita marah. Karena itulah yang dulu kita ajarkan kepadanya — tanpa sadar, tanpa kita sadari.
💛 Renungan: Betapa Sulitnya Kita yang Pernah Keluar dari Lembah Hitam
Dan izinkanlah saya menyampaikan satu hal yang sangat dalam di sini. Betapa berat dan sulitnya perjuangan kita — kita yang dulu pernah hidup dalam lembah hitam, yang pernah mengenal keburukan, yang pernah melihat dan mengetahui hal-hal yang tidak pantas — lalu berusaha keluar dari sana demi masa depan anak-anak kita.
Kita tahu betapa sulitnya membersihkan ingatan yang sudah terlanjur terekam. Kita tahu betapa beratnya menahan diri agar tidak kembali kepada kebiasaan lama. Karena itulah, kita tidak ingin anak kita menempuh jalan yang sama. Kita ingin mereka lebih bersih, lebih terjaga, dan lebih terjauh dari hal-hal yang kelak akan menyulitkan hidupnya.
Lalu mengapa kita masih saja membiarkan hal-hal yang sama masuk ke dalam mata dan hati anak-anak kita? Mengapa kita yang sudah merasakan betapa sakitnya keluar dari lembah kegelapan, justru menanamkan benih yang sama ke dalam diri anak kita sendiri?
Janganlah sampai kita berjuang sekuat tenaga keluar dari kegelapan, sementara dengan tangan sendiri kita justru menuntun anak kita masuk kembali ke dalamnya.
Maka marilah kita sadari hari ini. Menjadi orang tua bukan sekadar memberi makan dan pakaian. Menjadi orang tua berarti menjaga apa yang dilihat dan didengar anak sejak hari pertamanya. Karena apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan tumbuh dan menjadi wataknya di masa depan.
Jika kita ingin anak menjadi baik, maka perlihatkanlah kebaikan. Jika kita ingin anak menjaga pandangannya, maka jagalah apa yang ada di hadapannya sejak dini. Jangan sampai kita menanam duri, lalu berharap memetik bunga.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa anak itu titipan. Dan apa yang kita perlihatkan kepadanya hari ini, adalah warisan yang akan ia bawa seumur hidupnya.
Tulisan ini disusun dari renungan hati yang tulus, untuk kebaikan kita bersama dan masa depan anak-anak kita.