TERKINI: Update harga pangan nasional hari iniTimnas Indonesia bersiap hadapi kualifikasi duniaInovasi kendaraan listrik ramah lingkungan
cerpen

Kisah Si Pura-Pura Bodoh: Tenang dalam Sikap, Kuat dalam Proses

Bangali April 04, 2026
Komik Perjuangan Nokia 6600

Kisah Si Pura-Pura Bodoh: Tenang Tanpa Perlu Pamer

Malam itu, suasana kedai kopi temaram terasa hangat oleh obrolan para pengunjung. Di sudut ruangan, seorang pria duduk sederhana. Di depannya hanya segelas kopi hitam yang mulai dingin dan sebuah ponsel Android dengan layar yang sedikit retak. Ia tampak tenang, menikmati waktunya tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, seorang pemuda berpakaian rapi duduk di meja sebelah. Penampilannya mencolok, dengan jam tangan berkilau dan ponsel terbaru di tangannya.

“Masih pakai HP model begitu, Bang?” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Sekarang kan semua sudah serba praktis. Nggak perlu repot lagi.”

Pria itu menoleh perlahan, lalu tersenyum ringan. “Oh ya? Memangnya sekarang bagaimana cara pakainya, Mas?” tanyanya dengan nada tulus, seolah benar-benar ingin tahu.

Pemuda itu tampak semakin percaya diri. Ia lalu mendemonstrasikan fitur perintah suara di ponselnya.

“Nah, seperti ini. Tinggal bicara saja, semuanya langsung jalan. Zaman sekarang memang harus mengikuti perkembangan,” katanya dengan bangga.

Pria itu mengangguk pelan. “Wah, menarik sekali. Cepat juga ya responsnya,” jawabnya singkat, tetap dengan senyum yang sama.

Ia bukan tidak mengerti, hanya memilih untuk tidak menunjukkan. Pengalaman panjangnya ditempa dari keterbatasan—dari proses belajar yang sunyi, penuh kesabaran, dan konsistensi.

Pemuda itu tidak tahu, pria di hadapannya telah melalui perjalanan panjang di dunia digital. Ia belajar secara otodidak sejak masa ketika perangkat dan akses masih sangat terbatas.

Baginya, teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah pemahaman dan proses yang membentuknya.

Setelah pemuda itu pergi, pria tersebut kembali menatap ponselnya. Dengan tenang, ia membuka data yang ia butuhkan dan memantau aktivitas yang berjalan seperti biasa.

Ia menyeruput kopi yang tersisa, lalu tersenyum kecil.

“Setiap orang punya waktunya masing-masing untuk belajar,” gumamnya pelan. “Yang penting bukan terlihat canggih, tapi benar-benar memahami.”

HHHH! — Salam Otodidak