Hujan turun pelan sore itu, membasahi jalanan sempit di ujung kampung. Di sana, ada sebuah kursi kayu tua yang selalu menghadap ke jalan. Kursi itu milik Pak Darto.
Setiap hari, sejak matahari belum sepenuhnya naik, Pak Darto sudah duduk di sana. Diam. Mengamati orang-orang yang lewat—anak sekolah, ibu-ibu membawa belanjaan, hingga ojek online yang terburu-buru mengejar waktu.
Namun, hampir tidak ada yang benar-benar melihatnya.
“Pagi, Pak,” sapa seorang anak kecil suatu hari.
Pak Darto tersenyum, wajahnya yang keriput sedikit menghangat. “Pagi, Nak.”
Hanya itu. Percakapan singkat yang terasa panjang bagi seseorang yang jarang diajak bicara.
Dulu, Pak Darto bukan siapa-siapa yang tak terlihat. Ia pernah menjadi mandor bangunan, mengawasi proyek besar di kota. Orang-orang menghormatinya. Namanya disebut. Suaranya didengar. Tapi waktu berjalan.
Setelah pensiun, anak-anaknya merantau. Istrinya meninggal tiga tahun lalu. Rumahnya tetap berdiri, tapi isinya terasa kosong. Sejak itu, kursi di ujung jalan menjadi tempatnya “hidup”.
Suatu sore, seorang perempuan muda berhenti di depannya. Ia tampak kebingungan, memegang ponsel dengan sinyal yang naik turun.
“Pak, numpang tanya… alamat ini di mana ya?” tanyanya sopan.
Pak Darto langsung bangkit, seolah mendapat kembali perannya di dunia. Ia menjelaskan arah dengan detail, bahkan menawarkan untuk mengantar.
“Wah, terima kasih banyak ya, Pak,” kata perempuan itu dengan tulus.
Hari itu, Pak Darto duduk lebih lama dari biasanya. Senyumnya tak hilang.
Beberapa hari kemudian, perempuan itu kembali. Kali ini tidak bertanya arah. Ia membawa dua bungkus gorengan.
“Pak, saya lewat sini lagi. Boleh duduk sebentar?”
Pak Darto mengangguk, sedikit kaget. Mereka berbincang. Tentang hujan, tentang jalanan rusak, tentang hidup yang kadang terasa terlalu cepat bagi sebagian orang, dan terlalu lambat bagi yang lain.
Sejak hari itu, kursi di ujung jalan tak lagi sepi. Namun, yang berubah bukan hanya Pak Darto.
Orang-orang mulai memperhatikan. Anak-anak kecil kini sering menyapa. Tukang sayur berhenti sebentar untuk mengobrol. Bahkan ojek online yang dulu hanya lewat, kini sesekali mengangguk hormat.
Ternyata, yang dibutuhkan bukan sesuatu yang besar. Hanya satu orang yang mau berhenti. Satu orang yang mau melihat.
Hujan kembali turun suatu sore. Kursi di ujung jalan masih ada. Pak Darto masih duduk di sana. Tapi kini, ia bukan lagi seseorang yang tak terlihat.
Ia adalah bagian dari cerita kecil di kampung itu—cerita tentang bagaimana kehadiran seseorang, sekecil apa pun, bisa mengubah rasa sepi menjadi berarti. Dan semua itu, dimulai dari satu sapaan sederhana.
“Pagi, Pak.”
EmoticonEmoticon