3/24/2026

Warung Kopi di Persimpangan Nasib

Tags

Warung Kopi Tradisional di Kediri Saat Malam Hari
Ilustrasi: Sudut syahdu warung kopi di persimpangan jalan Kediri.

Warung Kopi di Persimpangan Nasib

Malam itu, Kediri sedang diguyur gerimis tipis. Aroma aspal basah tercium sampai ke teras warung kopi Mak Sum yang letaknya tepat di persimpangan jalan menuju arah kota. Warung itu sederhana, hanya ada lampu kuning temaram dan deretan stoples kerupuk yang mulai layu.

Di sudut meja kayu yang sudah menghitam, duduk seorang pemuda bernama Andri. Matanya menatap kosong ke layar HP-nya yang retak. Dia baru saja mendapat kabar kalau lamaran kerjanya di pabrik besar ditolak lagi. Sudah setahun dia luntang-lantung, merasa jadi beban di rumah, sementara teman-teman sekolahnya sudah mulai pamer cicilan motor baru di status WhatsApp.

"Kopi siji maneh, Mak. Sing pait," gumam Andri lemas.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan jaket lusuh duduk di depannya. Namanya Pak De Gito. Beliau adalah tukang rongsok yang biasa mangkal di sekitaran Simpang Lima Gumul. Wajahnya penuh kerutan, tapi matanya terlihat sangat teduh.

"Kenapa, Le? Kok koyo wong kelangan arah?" tanya Pak De Gito sambil menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul.

Andri mendesah panjang. "Anu Pak De, kulo ngeroso gagal. Kanca-kanca kulo pun dhuwur-dhuwur nasibe, lah kulo ngeten-ngeten wae. Gak nduwe opo-opo, gak dadi opo-opo."

Pak De Gito terkekeh pelan, suaranya parau tapi menenangkan. "Le, ndelok persimpangan jalan neng ngarep kuwi? Saben motor sing lewat duwe tujuan dewe-dewe. Sing ngebut durung tentu slamet, sing alon durung tentu telat."

Beliau meletakkan gelas kopinya. "Dulu Pak De punya segalanya. Toko besar, mobil mewah. Tapi Pak De sombong, merasa itu semua karena hebatnya Pak De sendiri. Akhirnya Tuhan ambil semuanya dalam semalam. Sekarang, Pak De cuma tukang rongsok. Tapi anehnya, baru sekarang Pak De ngerasain tidur nyenyak."

Andri terdiam. Dia membandingkan dirinya yang mengeluh karena belum punya "sesuatu", dengan Pak De Gito yang tetap tersenyum meski kehilangan "segalanya".

"Rezeki kuwi dudu lomba lari, Le," lanjut Pak De Gito. "Rezeki kuwi koyo kopi iki. Nek kakehan gulo, malah gak keroso kopine. Nek pait banget, ya kudu dinikmati ben keroso mantepne. Sing penting atimu tenang, tanganmu tetep obah, sikilmu tetep mlaku. Gusti Alloh gak nate turu."

Gerimis mulai reda. Andri melihat Pak De Gito beranjak, memanggul karung rongsoknya dengan langkah mantap. Di bawah lampu jalan yang remang, Andri baru sadar: dia nggak kalah, dia cuma lagi di "persimpangan" untuk memilih arah baru.

Andri menyeruput sisa kopinya. Rasanya tetap pahit, tapi entah kenapa, malam itu kerongkongannya terasa lebih hangat. Dia menutup layar HP-nya, lalu berdiri.

"Matur suwun kopine, Mak. Benjing kulo mriki malih," ucap Andri dengan suara yang kali ini lebih bertenaga.

Dia melangkah keluar warung, menembus sisa dingin malam. Bukan untuk mengejar teman-temannya, tapi untuk memulai langkahnya sendiri. Karena di persimpangan nasib ini, dia sudah menemukan apa yang paling berharga: Ketenangan untuk terus berjuang.

Bangali

Bangali

Pendiri ABM Media. Fokus berbagi panduan teknis & blogging. Klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :


EmoticonEmoticon