2/23/2026

Mengapa Mertua dan Menantu Sering Konflik? Sebuah Muhasabah Diri

Meniti Kesabaran dalam Dinamika Mertua dan Menantu

Problematika rumah tangga adalah sebuah kepastian yang sering kita dengar. Di dalamnya tersimpan berjuta permasalahan yang menuntut kita untuk mempersiapkan diri secara mental sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Salah satu isu yang paling kompleks dan sering muncul adalah perselisihan antara mertua perempuan dan menantu perempuan.

Tanpa bermaksud menyalahkan pihak mana pun, mari kita melakukan muhasabah bersama dari sudut pandang kita yang masih muda. Mengapa ketidakcocokan ini sering terjadi? Dan bagaimana kita seharusnya bersikap?

Refleksi Hubungan Mertua dan Menantu

Visualisasi Internal: Kesabaran dan empati sebagai jembatan penghubung antar generasi dalam keluarga.

Sebuah Perenungan: Perubahan Tubuh dan Pola Pikir

Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan diri kita sendiri. Coba ingat kembali saat kita masih anak-anak; betapa kencang dan lincahnya kita berlari tanpa rasa lelah. Namun, lihatlah saat kita mulai menginjak usia 30 atau 40 tahun. Apa yang kita rasakan pada tubuh kita?

Tanpa kita sadari sepenuhnya, banyak hal telah berubah. Pendengaran mungkin mulai berkurang ketajamannya, pandangan mata mulai memudar, dan fisik tak lagi seprima dulu. Jika di usia produktif saja perubahan itu sudah terasa, bayangkan bagaimana kondisi kita saat benar-benar menua nanti.

Begitu pula dengan pola pikir. Sangat mustahil bagi kita untuk menjamin bahwa pikiran kita akan tetap stabil dan tajam selamanya. Saat tubuh melemah, seringkali kontrol emosi dan logika pun ikut bergeser. Inilah alasan mengapa kita tidak boleh sombong dengan kondisi sehat kita hari ini.

Menjaga Lisan adalah Investasi Masa Depan

Sangat penting bagi kita yang lebih muda untuk terus bersabar menghadapi orang tua atau mertua, bahkan ketika mereka berada di posisi yang keliru. Menjaga ucapan bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk penjagaan diri karena apa yang kita lakukan hari ini adalah apa yang akan kita tuai di masa depan.

"Kita harus menjaga lisan kita hari ini, karena kelak kita pun akan berada di posisi mereka. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi kita di masa tua nanti."

Doa Sebagai Sandaran Utama

Manusia memiliki keterbatasan dalam bersabar. Oleh karena itu, langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengetuk pintu langit. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa diberikan kelapangan hati.

Kita memohon agar kelak di masa tua, jalan hidup kita dilancarkan dan dijauhkan dari segala problematika yang menyulitkan anak cucu kita. Dengan kesabaran dan doa, kita berharap dapat membangun rumah tangga yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga berkah secara batiniah.

Bangali

Bangali

Pendiri ABM Media. Fokus berbagi panduan teknis & blogging. Klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :


EmoticonEmoticon