Belajar secara otodidak dengan segala keterbatasan. Lewat tulisan, semoga bisa bermanfaat bagi sesama.
Banyak orang seringkali merasa minder untuk memulai sesuatu di internet karena merasa tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang mumpuni. Ada anggapan bahwa menjadi seorang blogger atau pengelola website adalah pekerjaan eksklusif bagi mereka yang hobi menulis sejak kecil atau sarjana IT. Namun, jika Anda melihat perjalanan saya, semua anggapan itu akan runtuh. Saya adalah bukti nyata bahwa keterbatasan masa lalu dan rasa malas bukanlah penghalang jika ada kemauan untuk terus mengulik.
Jujur saja, dulu saat masih di bangku sekolah, saya adalah orang yang paling malas jika berurusan dengan tugas menulis. Jangankan membuat esai atau karangan panjang, merangkai kalimat dalam satu paragraf saja rasanya seperti memindahkan gunung—sangat berat dan menyiksa pikiran. Namun, takdir membawa saya mengenal dunia blog, sebuah halaman kosong di internet yang menantang saya untuk mengisinya. Di sanalah saya berdiri dengan kebingungan besar: "Bagaimana saya mulai menulis dan dari mana langkah pertamanya?"
1. Perjuangan Melawan Keterbatasan Bahasa dan Kosa Kata
Ketika blog pertama saya berhasil dibuat, masalah yang muncul bukan lagi soal teknis, melainkan isi kepala yang kosong. Saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ide. Sebagai orang yang minim pendidikan formal, saya merasa asing dengan istilah-istilah "intelek" atau bahasa Inggris yang sering dipakai oleh para blogger sukses. Saya merasa kosa kata saya sangat sempit dan kampungan.
Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa minder. Setiap kali saya membaca artikel orang lain dan menemukan kata yang tidak saya mengerti, saya tidak tinggal diam. Saya selalu menyediakan kamus di samping saya—baik itu kamus fisik maupun digital. Saya cari artinya, saya pahami cara penggunaannya, lalu dengan kaku saya coba selipkan kata tersebut ke dalam tulisan saya sendiri. Proses ini memakan waktu berjam-jam hanya untuk satu paragraf, tapi bagi saya, itulah sekolah yang sesungguhnya.
2. Terjebak dalam Labirin Coding yang Asing
Setelah mulai terbiasa menulis, tantangan berikutnya datang dari "mesin" blog itu sendiri. Ternyata, membangun website yang bagus tidak cukup hanya dengan menulis. Saya dipaksa untuk mengenal HTML, CSS, dan JavaScript—deretan kode yang bagi saya terlihat seperti mantra sihir atau bahasa alien. Tanpa dasar pendidikan IT, melihat struktur XML di Blogger itu seperti melihat benang kusut.
Seringkali halaman blog saya berantakan hanya karena saya salah menghapus satu tanda kurung siku atau lupa menutup tag kode. Saat itulah frustrasi memuncak. Tapi lagi-lagi, saya menggunakan jurus bolak-balik: buka tutorial, buka kamus istilah coding, lalu praktek. Jika error, saya ulangi dari awal. Saya mempelajari struktur halaman web secara otodidak, mencoba memahami apa itu margin, padding, hingga responsive design demi memastikan pembaca nyaman melihat blog saya.
3. Strategi Belajar untuk Para Pemula Otodidak
Berdasarkan perjalanan "berdarah-darah" saya dari seorang yang malas menulis hingga bisa mengelola web teknis, ada beberapa poin penting yang ingin saya bagikan kepada teman-teman pemula:
| Fase Belajar | Tindakan Nyata |
|---|---|
| Fase Mental | Buang jauh-jauh rasa malas. Tulis apa yang Anda sukai (hobi), bukan apa yang orang lain mau. |
| Fase Bahasa | Gunakan kamus sebagai senjata utama. Jangan minder dengan keterbatasan kosa kata. |
| Fase Teknis | Jangan takut error saat mengedit kode. Dari kesalahan itulah logika coding kita terbentuk. |
| Fase Konsistensi | Jangan berhenti saat kalimat terasa 'bulet'. Teruslah menulis sampai polanya ketemu sendiri. |
Kesimpulan: Semua Bisa Karena Terbiasa
Akhirnya, saya menyadari bahwa dunia internet sangat terbuka bagi siapa saja, terlepas dari latar belakang pendidikannya. Menjadi blogger yang paham teknis bukan soal seberapa pintar Anda di sekolah dulu, tapi seberapa tekun Anda mencari jawaban atas ketidaktahuan Anda. Buktinya, dari yang tadinya anti menulis, sekarang saya justru mampu mengelola tiga halaman situs sekaligus seorang diri.
Jangan takut salah struktur, jangan takut kalimat tidak nyambung pada awalnya. Semua itu adalah bagian dari proses untuk menjadi lebih matang. Jika saya bisa sampai di titik ini, saya yakin Anda pun bisa. Mulailah sekarang, dan jangan biarkan rasa malas menang lagi.
Jika saya yang dulunya sangat membenci kegiatan menulis saja bisa sampai di titik ini, saya yakin Anda pun bisa. Mulailah dari sekarang, buka laptop Anda, dan jangan biarkan rasa malas menang lagi.