TERKINI: Jadwal lengkap seri MotoGP 2026 dan peta kekuatan mesin terbaru Persiapan Mekanik Motor Rumahan Menghadapi Transisi Motor Listrik 2026 Inovasi kendaraan listrik ramah lingkungan
opini Sekitar kita

Pentingnya menjalin Silaturahim

Bangali Oktober 26, 2023

Merajut Kembali Tali Silaturahim: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Kebutuhan Hakiki

Pernahkah kita merenungi betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama? Dalam ajaran Islam, silaturahim bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki kedudukan yang tinggi. Menjalin silaturahim tidak hanya mendatangkan pahala yang berlimpah, tetapi juga menjadi fondasi yang mempererat hubungan kasih sayang antara keluarga, kerabat, hingga masyarakat luas.

Sejak zaman dahulu, para pendahulu kita telah mengajarkan tradisi saling berkunjung. Tujuan utamanya sangat mulia: untuk mengetahui kabar kondisi saudara, berbagi kebahagiaan, serta melepas kerinduan di tengah hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari yang seringkali menyita waktu dan perhatian. Silaturahim menjadi momen jeda yang berkualitas untuk kembali menyatukan hati yang mungkin mulai menjauh karena jarak dan kesibukan kerja.

Landasan keutamaan silaturahim ini sangat kuat dalam agama kita. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi." Janji ini menunjukkan bahwa manfaat silaturahim tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi juga memberikan keberkahan nyata dalam kehidupan kita di dunia berupa kemudahan rezeki dan keberkahan usia.

Mengapa Tali Hubungan Seringkali Terputus?

Namun, sebuah ironi muncul di tengah masyarakat kita saat ini. Jika kita semua sudah memahami betapa besarnya kebaikan yang dihasilkan dari silaturahim, mengapa masih banyak orang yang justru memilih untuk memutus hubungan? Tak jarang kita melihat teman, sahabat, bahkan antar anggota keluarga inti yang saling menjauh, tidak bertegur sapa, hingga secara terang-terangan menyatakan tidak ingin lagi berhubungan dengan saudaranya sendiri.

Bukankah silaturahim itu adalah perbuatan mulia? Mengapa egonya lebih besar daripada rasa persaudaraannya?

Ada banyak faktor yang memicu keretakan ini. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan ego. Permasalahan kecil, perbedaan pendapat, atau kesalahpahaman yang tidak segera diselesaikan seringkali membengkak menjadi dendam. Di sinilah kedewasaan dalam berhubungan sangat diperlukan. Sifat mengalah bukan berarti kalah, melainkan sebuah bentuk kebijakan demi menjaga keharmonisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar memenangkan argumen pribadi.

Fenomena Sosial: "Golek Konco Mileh-Mileh"

Fenomena lain yang memprihatinkan adalah kecenderungan orang dalam memilih hubungan berdasarkan status sosial atau materi. Dalam bahasa Jawa, terdapat istilah "golek konco/dulur mileh-mileh" (mencari teman atau saudara dengan pilih-pilih). Banyak orang yang lebih bersemangat mendekatkan diri kepada mereka yang dianggap memiliki kelebihan materi, jabatan tinggi, atau kekuasaan.

Harapan mereka seringkali bersifat transaksional; berharap mendapatkan keuntungan, pengakuan, atau sekadar bisa mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari lingkaran orang-orang "berada" tersebut. Sementara itu, saudara yang kondisinya kurang beruntung atau dianggap tidak memberikan keuntungan materi justru seringkali dilupakan atau diabaikan. Padahal, esensi silaturahim yang sesungguhnya adalah saling merangkul tanpa memandang kasta atau status sosial.

Tantangan di Era Digital

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan teknologi membawa dampak besar pada cara kita berkomunikasi. Saat ini, tradisi berkunjung secara fisik mulai luntur karena orang merasa cukup dengan mengirim pesan melalui aplikasi seluler atau melihat aktivitas saudara melalui media sosial. Memang, internet adalah solusi cerdas saat jarak menjadi kendala, atau ketika ada hambatan transportasi dan waktu.

Namun, kecanggihan teknologi ini jangan sampai dijadikan alasan permanen untuk tidak bertatap muka. Komunikasi lewat layar seringkali kehilangan "ruh" dan kehangatan yang hanya bisa didapatkan melalui kehadiran fisik. Sentuhan tangan, senyuman langsung, dan duduk melingkar sambil bercengkrama memiliki energi positif yang tidak bisa digantikan oleh emotikon di layar ponsel.

Peran Penting Orang Tua sebagai Perekat

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial. Orang tua adalah jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan keluarga besarnya. Sangat penting bagi orang tua untuk tidak bosan mengingatkan anak-anaknya agar tetap mengenal dan mengunjungi kerabat mereka, terutama yang tinggal jauh. Mengajak anak berkunjung ke rumah paman, bibi, atau kakek-nenek adalah cara terbaik untuk mewariskan nilai-nilai kekeluargaan.

Hal ini dilakukan agar tradisi baik dari orang tua kita dahulu tidak punah begitu saja. Kita perlu menyadari kembali bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Cepat atau lambat, kita pasti membutuhkan bantuan orang lain, dan orang pertama yang seharusnya ada untuk kita adalah keluarga dan lingkungan terdekat.

Kesimpulan

Marilah kita perbaiki kembali niat kita dalam menjalin silaturahim. Buang jauh-jauh rasa ego, hilangkan standar status sosial dalam mencari saudara, dan luangkan waktu di sela kesibukan untuk berkunjung secara fisik jika memungkinkan. Menjaga hubungan baik adalah investasi kedamaian batin dan kunci keberkahan hidup.

Semoga hubungan antara keluarga kita bisa terus terjaga dengan baik, dijauhkan dari perpecahan, dan kita mampu melestarikan tradisi luhur yang telah diajarkan oleh para orang tua kita terdahulu.