TERKINI: Jadwal lengkap seri MotoGP 2026 dan peta kekuatan mesin terbaru Persiapan Mekanik Motor Rumahan Menghadapi Transisi Motor Listrik 2026 Inovasi kendaraan listrik ramah lingkungan
opini Sekitar kita

Filosofi Gak Iso'an: Mengapa Rasa Tidak Tegaan Itu Penting untuk Dirawat

Bangali April 18, 2022

Pernahkah Anda merasa dada sesak atau hati tidak tenang saat melihat tukang becak tua kepanasan di pinggir jalan? Atau mungkin Anda merasa tidak nyaman saat melihat teman sedang kesulitan, padahal Anda sendiri sedang tidak berlebih? Dalam budaya Jawa, ada sebuah istilah yang sangat mendalam untuk menggambarkan perasaan ini: "Gak Iso'an."

Secara harfiah, Gak Iso'an atau tidak tegaan adalah sebuah kondisi di mana seseorang mudah merasa iba. Ini bukan sekadar rasa kasihan yang lewat begitu saja, melainkan dorongan batin yang membuat kita sulit berpaling dari kesulitan orang lain. Seseorang yang memiliki sifat ini biasanya akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu, meskipun terkadang mereka sendiri sedang berada dalam keterbatasan.


Mengapa Sifat "Gak Iso'an" Itu Penting?

Di era modern yang serba kompetitif ini, sifat tidak tegaan sering kali dianggap sebagai sebuah kelemahan. Ada anggapan bahwa jika kita terlalu "gak iso'an", kita akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Namun, benarkah demikian? Justru sebaliknya, sifat inilah yang menjaga kewarasan kita sebagai manusia.

Membantu orang lain sejatinya adalah tugas utama kita sebagai makhluk sosial. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri seperti pulau di tengah samudera. Keberadaan kita baru memiliki makna ketika kita mampu memberikan dampak bagi lingkungan sekitar. Sifat gak iso'an adalah radar alami yang mengingatkan kita bahwa ada "bagian" dari diri kita di dalam diri orang lain.


Membantu Tak Harus Menunggu Kaya

Sering kali, orang enggan membantu karena merasa dirinya belum cukup sukses secara materi. "Nanti saja kalau saya sudah kaya, baru saya sedekah," begitu dalih yang sering kita dengar. Padahal, membantu sesama tidak selamanya harus diukur dengan harta atau uang.

Ada banyak cara untuk menyalurkan rasa iba kita menjadi tindakan nyata, mulai dari memberikan tenaga untuk membantu tetangga, memberikan solusi pikiran bagi teman yang buntu, hingga sekadar menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang butuh tempat bercerita. Bahkan doa adalah cara paling sunyi namun paling kuat untuk membantu sesama.


Obat Mujarab Kecemburuan Sosial

Jika kita mau sedikit lebih peka terhadap lingkungan sekitar, kita akan menyadari bahwa banyak gesekan di masyarakat bermula dari hilangnya rasa iba. Kecemburuan sosial yang kerap berujung pada konflik biasanya terjadi karena mereka yang "di atas" menutup mata terhadap mereka yang "di bawah".

Bayangkan jika setiap orang memiliki sifat gak iso'an. Orang kaya tidak akan tega melihat tetangganya kelaparan. Pemimpin tidak akan tega melihat rakyatnya menderita. Dengan rasa iba, kesenjangan itu tidak akan terasa seperti jurang yang memisahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan. Tidak akan ada lagi kebencian karena semua orang merasa saling dijaga.


Makhluk Sosial Bukan Makhluk Kanibal

Bukankah sangat ironis jika kita yang disebut makhluk sosial justru saling memusuhi, mendzalimi, atau menjatuhkan demi kepentingan pribadi? Kita sering lupa bahwa dalam roda kehidupan, posisi kita bisa berubah kapan saja. Hari ini kita mungkin di atas, tapi esok siapa yang tahu?

Sebelum kita menyakiti orang lain, cobalah untuk "mengaca". Lihatlah ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita sudah cukup sempurna sehingga merasa pantas merendahkan sesama? Apakah kita begitu kuat sehingga merasa tidak akan pernah membutuhkan bantuan orang lain di masa depan? Menyakiti manusia lain sebenarnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri kita sendiri.


Penutup: Merawat Nurani

Jangan pernah malu disebut "tidak tegaan". Di dunia yang semakin individualis ini, memiliki hati yang mudah iba adalah sebuah kemewahan. Itu adalah bukti bahwa nurani Anda masih berfungsi dengan baik. Mari kita terus merawat rasa gak iso'an ini. Mari kita saling merangkul, bukan saling memukul. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan yang akan diingat, melainkan seberapa banyak beban orang lain yang berhasil kita ringankan.

Mari menjadi manusia yang benar-benar memanusiakan manusia.